Dikembangkan & Mengembangkan

Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas, akhirnya semua kehidupan kampus yang penuh idealisme serta dinamikanya harus ditinggalkan. Sudah saatnya memilih satu jalan hidup yang pasti dan bukan saatnya lagi untuk brainstorming. Dunia masyarakat, dunia nyata memang lebih kejam…yang dinilai hanyalah hasil dan manfaat untuk keseluruhan. Jika dijaman mahasiswa dulu, teman seperjuangan kita adalah teman2 kita sendiri dan hasilnya pun untuk kita sendiri, jadi berhasil atau tidaknya suatu usaha hanya diukur oleh seberapa mengasyikkannya kegiatan itu bagi kita terserah bagaimana parameter keasikan masing-masing saja.

Ketika turun ke masyarakat luas, semua sudah bersifat profesional. Pekerjaan kita bukan lagi hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga bergantung dan digantung terhadap pekerjaan dan keadaan yang lain. Profesionalisme istilahnya, ya bahwa setiap sesuatu dinilai dari hasil dan manfaat yang diterima kepada setiap pihak yang terkait dan satu kesalahan dari pekerjaan kita adalah hal yang sangat perlu dipertimbangkan.

Sebelum membahas dunia profesional, terlebih dahulu kita membahas dunia pengangguran. Pengangguran adalah hal pertama yang menakuti para Sarjana yang baru selesai. Setidaknya ada spare waktu yang harus dilalui dengan ketakutan pengagguran ini. Dalam masa ini semuanya sudah serba satu keputusan “take it or leave it” bukan masanya lagi untuk beretorika dan berdialog.

Ada yang bilang ngaggur karena belum rejeki, ada yang bilang karena kurang akses, karena IPK rendah, bla bla bla… hm disatu sisi ketika masih menjadi mahasiswa, kita memang sebaiknya tidak memikirkan akan mendapat pekerjaan apa nanti, bagus pemikiran seperti itu memang…karena perguruan tinggi memang bukan produser buruh, tapi produser insan pendidikan. Akan tetapi, lagi-lagi dunia luar kampus memang kejam dan kaku sehingga bisa dibilang disinilah masa-masa idealisme dan keyakinan dipertaruhkan.

Bukan bermaksud untuk berlebihan, tapi memang ketika sedang di Perguruan Tinggi, sebaiknya ketika mahasiswa terutama saat tingkat akhir sudah ada perencanaan yang matang dan benar2 matang alisa kaku dan tidak bisa diubah oleh banyak kondisi lagi. Artinya semua persiapan sudah ada sehingga ketika keluar dari kampus sudah tidak bingung lagi memilih jalan yang mana karena kita sudah menyiapkan jalan sendiri. Kemudian untuk memenuhi rencana itu kita harus berpikir secara radikal dan bertindak pragmatis. Artinya kita kudu ambil dulu jalan yang termudah dan terdekat dengan rencana kita.

Nah, ketika lulus pun sudah seharusnya bukan lagi menjadi anak yang manja. Ini ada kaitannya dengan rencana yang telah disusun tadi, artinya sehebat apapun rencana dibuat tetap ga akan jalan kalo si pelaku ga konsisten dan ga tahan banting. Ah tulisan ini setidaknya mengingatkan saya juga agar tetap fokus dan tidak mudah teralihkan.

Perguruan Tinggi memang seharusnya memproduksi para insan pendidikan yang nanti berguna untuk pengembangan peradaban. Tetapi jika ketika para insan pendidikan itu belum bisa mengembangka dirinya sendiri, maka saya katakan sia-sialah proses pendidikan yang telah dilaluinya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s