Dibalik retorika yang konyol, menggebu, dan penuh dengan anekdot itu saya menemukan sosok yang mewah. Disakunya ada HP yang merknya kerapkali mendapatkan julukan HP sejuta Umat. Sisrannya rapi dengan busana yang tampak bersih dan mahal. Ruangan seminar itu seperti menunggu kata2 sihirnya, yang siap membawa firman2 Tuhan sambil memberikan informasi tentang dirinya.Diri yang sibuk kesana kemari, tampil di perhelatan rumah pejabat sampai di depan televisi. ia adalah rohaniawan muda yang sedang memiliki karir yang menanjak, jam terbangnya tinggi dan bayarannya pun mahal. dakwahannya Konyol dan sangat adaptif dengan kawula muda. merekalah da’i masa kini : tampan, fasih baca Quran, dan selalu mendorong orang untuk bisa beradaptasi dengan keadaan. Julukannya sudah selebritis.
Dimulainya Khutbah dengan kalimat yang sejuk mengalir kemudian diimbuhi nasehat untuk memperbaiki diri-sendiri,mereka berusaha untuk mengembalikan ajaran agama pada kesempurnaan diri dengan selalu saja melihat kenyataan sosial yang buram dengan rasa optimis. Dakwahnya mudah diterima, dalam artian anjurannya gampang dipahami dan tidak melulu hanya berputar-putar di kaum muslimin.
Tapi anjuran itu tampak dingin karena dakwahnya kemudian tidak mampu menyapa arus keresahan sosial. perbaikan hati mungkin bisa dikerjakan melalui tindakan2 sederhana, tetapi kemudian tindakan2 itu tidak bisa memperbaiki situasi yang runyam. kita sering tak habis pikir, bagaimana sosok yang dikenal beribadah dan taat dan juga sering berbincang tentang agama tega melakukan perbuatan keji. Ada yang melakukan korupsi hingga menelurkan kebijakan yang kejam. itu sebabnya dahaga ummat akan pemecahan masalah sosial tidak bisa mengandalkan mubaligh. seorang pendakwah tidak menjadi penyelesai perkara korupsi hingga konflik antar etnis, ia hanya dimanfaatkan untuk berkhutbah tentang suatu yang normal. menghias layar kaca sambil menganjurkan perbuatan2 yang sederhana, tapi berujung pada pahala. Ganjaran inipun dalam bahasa media harus bisa dinikmati dalam ruang imajinasi publik. Itu sebabnya gambaran keji tentang neraka, setan, dan hukuman menjadi sesuatu yang perlu dikonkritkan. seorang bisa dengan kejam dihukum dengan atraksi yang sadis karena melakukan korupsi. televisi menyajikan ini semua dengan cara yang menarik sekaligus Konyol. Islam didaulat untuk menjadi ajaran yang bisa menertibkan moral melalui campur tangan Tuhan dan Mubaligh menjadi sosok yang mengantarkan siksa itu. Walau mungkin agak naif, tapi kesadaran agama publik semacam itu sudah tentu mncemaskan. Mencemaskan dalam arti hal itu melepaskan penghayatan keagamaan yang berbalut rasa empati, Cinta dan solidaritas Sosial. Kita benci pada korupsi, tapi bukan solusinya adalah azab kubur.
Seorang mubaligh kenamaan yang tampan dan pintar melantunkan Quran pernah berujar ; bahwa kemiskinan dan kekayaan semua adalah takdir Allah, seorang dibuat miskin karena Allah tahu jika dibuat kaya maka dia akan berlumuran dosa. Logika ini walapun baik tetapi sungguh sesat. karena tidak memperhitungkan kompleksitas sosial yang membawa seseorang berada pada posisi kelas sosial tertentu. Tapi media bukan jenis pewarta yang memungkinkan publik untuk bisa memberi umpan balik maupun kritik. Mubaligh jenis inilah yang banyak beredar di masyarakat dan bukan membuat kita tambah beriman, tetapi malah tambah bodoh.
Negara yang membuat otoritas tertentu yang merugikan rakyat, sedangkan para mubaligh ini dijadikan pelawak untuk menghibur dan menenagkan hati masyarakat. Kita kehilangan mubaligh yang cerdas, tajam, dan revolusioner. Sejak itu agama tidak dihidupkan dengan Api, tetapi dengan asap kemegahan yang menutupi kepalsuan.
Semoga tulisan ini menyadarkan kita bahwa dunia dakwah bukan hanya memberi tahu apa yang benar, tetapi juga memberi tahu bagaimana melawan kejahatan.
“Disadur dari beberapa bacaan”